| Sejarah Pompeii Yang Berakhir Seperti Kaum Luth |
|
|
|
| Friday, 03 February 2012 10:41 |
|
Di sebelah kanan gunung Vesuvius terletak kota Naples, sedangkan kota Pompeii berada di sebelah timur gunung tersebut. Lava dan debu dari letusan yang mahadahsyat gunung tersebut yang terjadi dua milenia yang lalu membumihanguskan penduduk kota. Malapetaka itu terjadi dalam waktu yang sangat mendadak sehingga menimpa segala sesuatu yang ada di kota termasuk segala aktivitas sehari-hari yang tengah berlangsung. Aktifitas yang dilakukan penduduk dan segala peninggalan yang ada ketika bencana terjadi kini masih tertinggal persis sama seperti ketika bencana itu terjadi dua ribu tahun yang lalu, seolah-olah waktu tidak bergeser dati tempatnya. Catatan sejarah menunjukkan, kota tersebut ternyata merupakan pusat kemaksiatan dan kemungkaran. Kota tersebut dipenuhi oleh meningkatnya jumlah lokasi perzinahan atau prostitusi. Saking banyaknya hingga jumlah rumah-rumah pelacuran tidak terhitung lagi. Organ-organ kemaluan pria dengan ukuran yang asli digantung di pintu-pintu pelacuran itu. Menurut tradisi ini, yang berakar pada kepercayaan Mithraic, organ-organ seksual dan hubungan seksual sepatutnya tidaklah tabu dan dilakukan di tempat tersebunyi, akan tetapi hendaknya dipertontonkan secara terbuka. Lava gunung Vesuvius menghapuskan keseluruhan kota tersebut dari peta bumi dalam waktu yang sekejap. Yang paling menarik dari peristiwa ini adalah tak seorang pun mampu meloloskan diri dari keganasan letusan Vesuvius. Hampir bisa dipastikan bahwa para penduduk yang ada di kota tersebut tidak mengetahui terjadinya bencana yang sangat sekejab tersebut. Jasad-jasad seperti terawetkan oleh alam dan masih bisa disaksikan hingga hari ini. Wajah mereka terlihat berseri-seri. Jasad dari satu keluarga yang sedang asyik menyantap makanan berikut makanannya, terawetkan mulai pada detik pertama musibah terjadi. Banyak sekali pasangan-pasangan yang tubuhnya terawetkan berada pada posisi sedang melakukan persetubuhan. Yang paling mengagetkan adalah terdapat sejumlah pasangan yang berkelamin sama, mereka melakukan hubungan seks sesama jenis (homoseks). Ada pula pasangan-pasangan pria dan wanita yang masih belia. Hasil penggalian fosil juga menemukan sejumlah mayat yang terawetkan dengan raut muka yang masih utuh. Secara umum, raut-raut muka mereka menunjukkan ekspresi kejutam, seolah bencana yang terjadi datang secara tiba-tiba dalam sekejab. Sama dengan kisah Alquran Aspek ini menunjukkan bahwa penghancuran Pompeii mirip dengan peristiwa-peristiwa adzab yang dikisahkan dalam Alquran, sebab Alquran secara khusus mengisyaratkan "pemusnahan secara tiba-tiba" ketika mengisahkan peristiwa yang demikian ini. Misalnya, "penduduk suatu negeri" sebagaimana disebut dalam surat Yaasiin ayat 13 musnah bersama-sama secara keseluruhan dalam waktu sekejap. Keadaan ini diceritakan sebagai berikut:"Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semuanya mati," (QS.Yaasiin: 29). Kematian massal penduduk kita Pompeii terjadi dalam waktu yang sangat singkat persis sebagaimana adzab yang dikisahkan dalam kedua ayat di atas. Kendatipun semua peringatan ini, tidak banyak yang berubah di wilayah di mana Pompeii dulunya pernah ada. Pulau Capri tetap menjadi tempat dimana para kaum homoseksual dan nudis (orang-orang yang hidup telanjang tanpa busana), tinggal. Pulau Capri diiklankan sebagai "surga kaum homoseks" di industri wisata. Tidak hanya di Pulau Capri dan di Italia, bahkan hampir di seantero dunia, kerusakan moral tengah terjadi, tidak terkecuali di negeri yang kita cintai ini. Dan sayangnya mereka tetap saja tidak mau mengambil pelajaran dari pengalaman pahit yang dialami kaum-kaum terdahulu. Padahal Alquran mengisahkan kepada kita bahwa tidak ada perubahan dalam hukum Allah (sunnatullah): "Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah mereka kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran), karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat pergantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu". (QS Al Faathir: 42-43). Begitulah, "sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah." Siapapun yang menentang hukum Allah dan berusaha melawan-Nya akan terkena sunnatullah yang sama. Sumber: Tabloid Republika/www.harunyahya.com |
| Last Updated on Friday, 03 February 2012 11:22 |