| Cara Menggapai Sholat Khusyu' |
|
|
|
| Friday, 10 February 2012 11:50 |
|
Bisa dikatakan, sejak kecil kita sudah melaksanakan shalat, tapi kita tidak pernah merasakan kenikmatan shalat, kedamaian hati. Alih-alih bisa merasakan kenikmatan shalat, atau merasa khusyu' rasa tenang tak jua tercapai. Mengapa semua begitu sulit untuk diraih? Ketika shalat, pikiran kita sering berkelana entah ke mana. Semua berjalan tanpa bisa dikendalikan. Padahal segala tata cara telah terpenuhi, baik bacaan maupun rakaatnya. Namun, lagi-lagi pikiran pergi tanpa kompromi. Tahu-tahu shalat sudah selesai tanpa disadari. Mengapa shalat khusyu' begitu sulit diraih? Perasaans seperti itu disebabkan karena kita kadang masih menganggap shalat itu hanya sebagai tugas dan kewajiban dari Allah belaka. Suka tidak suka, ya harus shalat. Enak atau tidak enak yang penting memenuhi tuntutan kewajiban, tidak perlu dibahas. Tak heran, kalau ditanya, mengapa kita shalat? Kebanyakan kita menjawab,"Ya, biar tidak masuk neraka". Tidak salah jika sebagian kita masih berpandangan seperti itu. Karena di waktu kecil, baik orangtua maupun guru telah banyak andil menakut-nakuti kita, bahwa kalau tidak shalat akan dijebloskan ke neraka, sehingga setiap kali ada adzan, perasaan takut dan ngeri sering timbul ke dalam hati. Sehingga, tanpa disadari, secara psikologis pikiran kita terganggu dengan doktrin tersebut. Dan akhirnya kita tidak pernah disadarkan bahwa shalat itu untuk kebaikan kita dan bisa kita rasakan secara langsung baik melalui pikiran dan perasaan hati kita. Selain itu shalat merupakan tempat kita mengadu di saat kesusahan serta memohon petunjuk jika ada kebuntuan pikiran. Namun, karena doktrin itu sudah terlanjur lengket dalam benak kita, juga dibiasakan hanya diperintahkan untuk menggugurkan kewajiban belaka yang terpenting syarat rukunnya sah, nanti di akhirat akan mendapat pahala melimpah. Nah, kalau begitu sulit sekali menggapai shalat khusyu' yang terjadi malah sebaliknya, menjadi benar-benar berat dan sulit dilaksanakan. Meski sudah berupaya melakukannya dengan serius, menepis khayalan dalam pikiran agar bisa khusyu', namun, tetap saja sulit didapatkan. Bagaimana cara agar shalat tidak menjadi bagian aktivitas yang menjemukan? Tapi, menjadi tempat istirahatnya jiwa dan tubuh, seperti yang dikatakan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam,"Jadikanlah shalat sebagai istirahatnya jiwa dan tubuhmu". Sebenarnya bukanlah sesuatu yang rumit tetapi bukan juga sesuatu yang gampang. Namun, agar shalat kita tidak menjemukan sehingga kita betul-betul merasakan nikmatnya shalat, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengevaluasi ulang shalat kita. Karena, shalat bukanlah untuk Allah tetapi untuk kebutuhan kita sendiri. Karena, shalat adalah sebagai alat penolong, sumber hidup, penerang jiwa dan tempat kita bertanya tentang persoalan yang sulit dipecahkan. Kok bisa? Bisa, bila kita betul-betul memahami makna setiap gerakan dan bacaan dalam shalat itu sendiri. Karena, perasaan khusyu' itu tidak mungkin didapat jika kita tidak memiliki kesadaran dan kepercayaan bahwa sebenarnya di saat shalat kita sedang berhadapan dengan Allah, sedang berkata-kata dengan Allah. Perjumpaan ini yang dipandang tidak mungkin oleh sebagian orang, bahkan menganggap Allah tidak berada di sini, dekat dengan kita! Padahal, jelas-jelas, kalau kita telaah shalat dari bahasa, ia bermakna menghubungkan atau mempersatukan. Artinya, segenap perasaan, pikiran, dan hati menyatu dalam kehadiran atau keberadaan Tuhan. Jika, kita betul-betul bisa menjadikan shalat sebagai wahana komunikasi dan pertemuan antara hamba dengan Tuhannya, maka akan timbul hubungan yang kuat antara Roh kita dengan Tuhan, sehingga kita akan merasakan ketenangan yang luar biasa. Untuk itu, bagi sebagian umat Islam, shalat dijadikan sebagai jalan meditasi yang tertinggi. Karena, shalat dapat dijadikan tempat beristirahat dan sekaligus menghilangkan rasa dahaga yang dirasakan rohaninya. Dalam shalat kita juga perlu mensinergikan kedua otak kita, kanan dan kiri. Kenapa? Karena, kemampuan otak kiri kita cenderung melakukan proses berpikir yang bersifat logis, linier, dan rasional. Sementara, cara otak kanan itu berpikirnya sesuai dengan hal-hal yang bersifat non verbal, seperti perasaan mengetahui perasaan dan emosi, kesadaran yang berkenaan perasaan, intuitiff, dan holistik (spiritual). Dalam shalat, otak kiri kita itu menghitung, mengatur rakaat, dan membaca secara verbal secara tertib. Pendeknya, ia berkaitan dengan syariat shalat. Sedang otak kanan kita akan memahami dengan emosi, sehingga memunculkan penghayatan dan merasakan kehadiran Allah di hadapan kita. Nah, jika kedua otak kita bisa diseimbangkan, maka kita akan menghasilkan shalat yang optimal. Jika tidak, maka shalat tidak bisa khusyu', pikiran kita masih melayang-layang. Mungkin secara syarat shalat ia sah, tapi dalam meraih kekhusyukan belum tentu. Karena sesuai watak otak kanan kita, ia akan melayang mencari inspirasi dan intuisi ke mana-mana. Untuk itu, tak heran, Rasululullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam pernah mengingatkan, di dalam shalat atau ibadah apa pun kesadaran spiritual (otak kanan) kita harus diaktifkan, agar merasakan kehadiran Tuhan dalam diri kita. Langkah-langkah praktis menggapai shalat khusyu'
|
| Last Updated on Friday, 10 February 2012 14:21 |