Home Al Islam Agar Marah Sesuai Fitrah
Agar Marah Sesuai Fitrah PDF Print E-mail
Administrator / Wednesday, 22 February 2012 11:12

Setiap orang pasti pernah marah. Itu normal. Namun menjadi tidak normal bila marah menjadi bencana bagi banyak orang. Secara psikologia marah termasuk reaksi pertahanan diri dan ekspresi dari kecenderungan manusia untuk berbuat baik dan bijak (hanif). Sejak di dalam rahim seorang manusia telah belajar mengembangkan konsep diri. Semua manusia tahu apa yang dibutuhkannya dan apa yang "seharusnya" mereka dapatkan untuk hidup. Fenomena marah dapat terjadi bila salah satu persyaratan hidup seseorang manusia terganggu.

Pada perkembangan selanjutnya marah berkembang menjadi sebuah cerminan tanggu jawab. Kita marah bila ada sesuatu yang menjadi tanggung jawab kita tidak berjalan sebagaimana mestinya. Mengapa tanggung jawab? Dalam Islam tanggung jawab identik dengan amanah. Amanah bagi seorang muslin adalah jati diri sekaligus penentu kehadiran kita di dunia ini.

Diri seorang manusia Muslim adalah "peace keeper", penjaga perdamaian dan regulator sekaligus eksekutor, dan korektor bagi sistem kesemestaan. Akal yang diwakili area asosiasi dan lobus frontalis beserta girus presentalis di otaknya akan mengkoordinasi peran batang otak dan sistem limbik yang mengawal proses pertahanan diri. Bila proses pengawalan ini tercederai oleh peristiwa yang tidak dapat ditoleransi akal sehat, maka kita menjadi marah. Pada saat marah itulah terjadi peningkatan aktivitas hormon otak dan hormon anak ginjal. Seluruh metabolisme kita meningkat dan siap untuk melaksanakan aksi-aksi yang melibatkan fisik, mental serta pikiran.

Karena itu, ketika kita marah dalam kondisi berdiri, maka duduklah. Ketika sedang duduk, berbaringlah. Hal ini dapat ditafsirkan melalui dua pendekatan. Pertama, secara postural atau kondisi fisiologis posisi tubuh. Seorang yang ketika marah sedang dalam posisi berdiri tentu memerlukan energi pemompaan darah ekstra agar aliran darah dapat mencapai ke otak, akan semakin sulit seseorang mengaktifkan sistem pengendalian dirinya. Mengingat sistem pengendalian itu terletak di bagian otak sebelah depan atas. Demikian pula ketika kita duduk, masih ada efek gravitasi yang harus kita lawan. Sedangkan bila kita berbaring maka aliran darah menuju otak akan sama baiknya dengan yang didistribusikan ke seluruh tubuh. Inilah tips praktis dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam untuk mengelola marah.

Manajemen marah yang kedua dapat ditafsirkan sebagai proses pengelolaan ekspresi secara sistematis dan komprehensif. Marah kita haruslah memiliki visi misi yang jelas. Serta sampaikan melalui cara komunikasi dan media yang tepat.

Marah yang sesuai fitrah harus pula mengedepankan fungsi iqra, dimana setiap proses marah ada tujuan objektifnya. Sangat baik ketika kita telah memasuki fase marah, kita telah memiliki "tabel panduan". Tabel bisa berisi ringkasan pokok pikiran  tentang akar amsalah yang menimbulkan kemarahan. Hal berikutnya disebut "angry issues". Apa tujuannya membuat isu-isu marah ini? Agar kita tidak keluar "jalur" ketika sedang marah. Sekaligus isu ini akan menjadi panduan rasional dalam menata akal kita agar tidak terjebak dalam "hasutan" batang otak untuk sekedar melampiaskan dendam.

Marah yang sarat dendam disebut amarah. Marah jenis ini cenderng menyakiti. Kata-kata dan perbuatan yang dipilih diwarnai hormon adrenalin yang akan mendorong proses penistaan dan melahirkan kepuasan melalui sederet kebencian. Marah ini akan memanipulasi hormon skotofobin atau hormon takut pada objek kemarahannya. Inilah salah satu pintu masuk dari tujuh pintu neraka jahanam.

Redam dengan dzikir

Dzikir sangat efektif meredam marah dan membuat hati menjadi tenang. Dengan dzikir dan memilih proses marah yang tepat, marah kita akan diwarnai hormon serotonin dan endorfin serta  feniletilamin, alias hormon sabar, bahagia, dan sayang. Kapan kelompok hormon ini dapat dioptimasi sempurna? Bagi ahli shalat, proses ini dapat berlangsung setiap saat. Namun bagi kita yang baru "belajar" shalat, maka waktu idealnya adalah bada shalat Ashar sampai menjelang Maghrib.

Pada saat itu tirani batang otak dan anak ginjal dengan adrenalin dan kortisolnya mencapai titik balik penurunan. Bila semua dari pagi sampai siang hari mereka mendominasi, maka di sore hari saat matahari  mulai terbenam kelompok hormon nafsu ini mengendurkan aktifitasnya. Kita tidak lagi terbelenggu oleh konsep "keakuaan  yang kental dan merasa "ketakutan" bila harga diri kita ternodai pihak lain. Kesadaran kita pun akan naik.

Cobalah perhatikan lebah. Mereka dapat mengendus nektar bunga dari jarak 1,5 kilometer berdasar pada panduan matahari dan feromon (molekul bau) yang dipancarkan bunga. Dan mereka dapat pulang ke sarang dengan tepat di sore hari berdasar pada molekul cinta sang ratu. Sore hari sensitivitas terhadap cinta dan kasih sayang menjadi jauh lebih kuat ketimbang pagi dan siang hari.

Demikian pula yang terjadi pada manusia, bila kita mencintai sesuatu di pagi dan siang hari maka kecenderungan yang akan terjadi adalah "melindungi" kepentingan diri sendiri. Inilah yang disebut dengan "cemburu". Bila  marah dijiwai semangat cemburu, tentu marahnya hanya akan mendatangkan "perang". Maka tak heran ketika kita marah, seolah kita mempertontonkan "kekuasaan" dan "ketakmaukalahan". Inilah marah yang disebut "mau menangnya sendiri."

Sumber: Tabloid Republika


blog comments powered by Disqus
Last Updated on Wednesday, 22 February 2012 13:15

Advertisement

Shere Google +

Who's Online

We have 27 guests online
Google PageRank Checker