| Curhat pada DIRUT PT KAI "Kereta Api Tidak Lagi Merakyat " |
|
|
|
| Friday, 07 October 2011 09:09 |
Curahan Hati Para Pelaju Mojokerto kepada Direktur Utama PT KAI
Dear Bp. Jonan,
Perkenalkan, nama saya Dhyana A. Listyani, 32 th, karyawan swasta di Surabaya yang selama ini menggunakan trasportasi kereta api dari Mojokerto menuju Surabaya.
Mulai tahun 2005 saya mulai naik kereta api, dan merasakan kenyamanan menggunakan trasportasi tersebut, walaupun berada dikelas ekonomi, kereta-nya sering telat, bahkan Lokomotifnya sering rusak di tengah jalan, saya tetap merasa nyaman dibandingkan menggunakan trasportasi lainnya seperti bus. Apalagi jika pada saat kondisi saya yang sedang mengandung, tidak memungkinkan untuk naik turun angkutan umum apalagi jembatan penyeberangan untuk menuju terminal bus sby. Bahkan untuk menambah kenyamanan dalam ber-kereta-api saya dan rekan-rekan yang ber-KTB (Kartu Trayek Bulanan).
Apalagi sejak adanya kereta-api SUROKERTO, sangat-sangat membantu kami para peng-laju dalam menghantar kami ke Surabaya dari Mojokerto. Akan tetapi sekarang sudah 2 bulan ini Surokerto tidak jalan, satu-satunya alternative hanya menggunakan kereta api KRD ( Surabaya-Kertosono) yang kondisinya sudah sangat overload. Bahkan tak jarang rekan-rekan kami yang berasal dari Jombang sudah tidak dapat tempat duduk. Lantas bagaimana dengan kami yang naik dari Mojokerto, bahkan rekan-rekan dari stasiun sesudahnya ?? Untuk naik BUS, karena seringnya kecelakaan membuat para PO bus mengurangi armada yang jalan, membuat kami semakin sulit berebut naik bus yang sudah penuh.
Ditambah lagi perlakuan dari para pegawai PJKA yang tidak menyenangkan dan seringkali tanpa hormat dalam memperlakukan para penumpang. Setahu saya walaupun pegawai PJKA, mereka seharusnya tidak boleh se-enaknya ikut kereta-api executive seperti BIMA dan TURANGGA, tapi pada kenyataannya, mereka dengan se-enaknya ikut, bahkan seringkali mengajak orang ke-2 dan ke-3 (saudara atau teman) untuk ikut tanpa membeli tiket secara resmi. Bahkan walaupun kami membeli tiket resmi-pun, seringkali mereka mempertanyakan tiket kami dengan nada yang sangat tidak sopan kpd kami. Padahal untuk naik Mutiara Selatan dari Mojokerto - Surabaya kami sudah membeli tiket seharga Rp. 140.000,- suatu nilai yang tidak sedikit untuk kami para penglaju.
Untuk itu Pak Jonan, bersama surat ini, saya dan mungkin juga ada rekan-rekan saya yang sudah berkirim email sebelumnya kepada bapak memohon dengan sangat :
1. Menjalankan kembali kereta api Surokerto, atau memberi alternative lain seperti kereta pengganti selama surokerto belum bisa jalan.
2. Lebih menertibkan dan mendisiplinkan para pegawai PJKA dalam menggunakan trasportasi kereta api sesuai dengan level kepegawaiannya. Kalau perlu sama - sama harus bertiket, karena toh para pegawai sudah mendapatkan uang trasportasi.
3. lebih meng-educate para Pegawai untuk lebih sopan dalam bertanya dan menghadapi para penumpang.
Kami juga berusaha untuk mengajak para rekan - rekan lebih memperhatikan kenyamanan dengan ikut ber-KTB, menghindari menjadi penumpang gelap, dan lebih tertib.
Kami sangat mengharapkan response baik dari Bp. Jonan selaku pimpinan PJKA.
Atas perhatian-nya saya ucapkan terimakasih.
Best Regards,
Dhyana Agustin Listyani
Dear Bp. Jonan, Perkenalkan, nama saya Dhyana A. Listyani, 32 th, karyawan swasta di Surabaya yang selama ini menggunakan trasportasi kereta api dari Mojokerto menuju Surabaya.Mulai tahun 2005 saya mulai naik kereta api, dan merasakan kenyamanan menggunakan trasportasi tersebut, walaupun berada dikelas ekonomi, kereta-nya sering telat, bahkan Lokomotifnya sering rusak di tengah jalan, saya tetap merasa nyaman dibandingkan menggunakan trasportasi lainnya seperti bus. Apalagi jika pada saat kondisi saya yang sedang mengandung, tidak memungkinkan untuk naik turun angkutan umum apalagi jembatan penyeberangan untuk menuju terminal bus sby. Bahkan untuk menambah kenyamanan dalam ber-kereta-api saya dan rekan-rekan yang ber-KTB (Kartu Trayek Bulanan). Apalagi sejak adanya kereta-api SUROKERTO, sangat-sangat membantu kami para peng-laju dalam menghantar kami ke Surabaya dari Mojokerto. Akan tetapi sekarang sudah 2 bulan ini Surokerto tidak jalan, satu-satunya alternative hanya menggunakan kereta api KRD ( Surabaya-Kertosono) yang kondisinya sudah sangat overload. Bahkan tak jarang rekan-rekan kami yang berasal dari Jombang sudah tidak dapat tempat duduk. Lantas bagaimana dengan kami yang naik dari Mojokerto, bahkan rekan-rekan dari stasiun sesudahnya ?? Untuk naik BUS, karena seringnya kecelakaan membuat para PO bus mengurangi armada yang jalan, membuat kami semakin sulit berebut naik bus yang sudah penuh.
Dhyana Agustin Listyani
|
| Last Updated on Friday, 07 October 2011 09:53 |